Senin, 14 November 2011

TUGAS KONSEP DASAR IPS

Diposkan oleh Sri Wahyuni Nur Fadyah di 19.15
Reaksi: 

Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Belajar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Siswa Kelas V SDN

Dosen Pengampu :
Maya Kartikasari M.Pd







Disusun Oleh :
  1. Sri Wahyuni Nur Fadyah (11 141 298)
  2. Diah Wahyu Utami (11 141 299)
  3. Indah Wdyawati (11 141 300)
  4. Dian Safitri (11 141 301)


Program Studi PGSD IKIP PGRI Madiun
Jln.Auri no. 06 Madiun



KATA PENGANTAR
Puji syukur hanya milik Allah SWT. Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada junjungan besar kita Nabi Muhammad SAW. Berkat limpahan dan rahmad-Nya, kami mampu menyelasaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah konsep dasar Ips.Pendidikan IPS ialah suatu program pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan nya.
Makalah ini memberikan judul Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Belajar Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Pada Siswa Kelas V SDN dengan bertujuan agar para peserta didik kelas V mampu mengikuti pembelajaran IPS dengan seefektif mungkin.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu dan memahami tentang pentingnya akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Semoga makalah ini dapat memberi wawasan kepada pembaca khususnya para mahasiswa IKIP PGRI MADIUN.
Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna seperti kata pepatah “tak ada gading yang tak retak”. Untuk itu, kepada dosen pembimbing, kami meminta masukkannya demi perbaikan pembuatan makalah kami dimasa yang akan datang.

Madiun,17-Oktober-2011

Penyusun






DAFTAR ISI

Cover Dalam
Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang Masalah
    2. Perumusan Masalah
    3. Tujuan
    4. Manfaat
BAB II KAJIAN TEORI dan PEMBAHASAN
2.1 Kajian Teori
2.2 Pembahasan
2.2.1 Deskripsi pembelajaran metode Jigsaw
2.2.2 Kelemahan dan keunggulan metode Jigsaw
2.2.3 Langkah-langkah pembelajaran metode Jigsaw
2.2.4 Pengaruh metode Jigsaw terhadap siswa
BAB III Kesimpulan
Daftar Pustaka





BAB I PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang Masalah
Berhasilnya tujuan pembelajaran sebenarnya telah ditentukan oleh banyak faktor yang diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Karena banyak guru yang menggunakan metode ceramah dan strategi yang kurang tepat dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar di kelas dilakukan secara monoton. Pembelajaran yang demikian disebut sebagai pembelajaran konvensional. Pembelajaran tersebut mengakibatkan banyak siswa menjadi bosan atau tidak nyaman dalam proses belajar mengajar di kelas,sehingga hasil belajar siswa berakhir dengan tidak tuntas. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara atau model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan. Dari fenomena seperti kenyataan di atas, pihak ahli pendidikan melakukan berbagai uji coba penerapan model pembelajaran. Beberapa percobaan dilakukan menunjukkan hasil yang memuaskan dalam peningkatan hasil belajar, sehingga percobaan berbagai model pembelajaran terus ditingkatkan.
Dalam dekade terakhir ini, para ahli pendidikan mengembangkan model pembelajaran dan berhasil mendorong minat siswa dalam kerja sama yang diterapkan di kelas. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif. Tipe model pembelajaran kooperatif yang akan dijelaskan dalam makalah ini adalah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
. Didalam model pembelajaran jigsaw memang sangat menarik dan menyenangkan bagi siswa siswi, juga tidak terlalu melelahkan bagi guru. seorang guru berfungsi sbg fasilitator, dan juga membimbing anak dlm mengambil kesimpulan akhir.



    1. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Deskripsi pembelajaran model Jingsaw?
2. Bagaimanakah kelemahan dan keunggulan metode pembelajaran model jigsaw?
3. Bagaimana langkah-langkah model pembelajaran koopereatif teknik jigsaw?
4. Bagaimanakah pengaruh metode pembelajaran model jigsaw terhadap motivasi belajar siswa?

    1. Tujuan
  1. Untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya pembelajaran model jigsaw.
  2. Untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa setelah diterapkannya metode pembelajaran model jigsaw.
  3. Mengetahui deskripsi tentang model pembelajaran Jigsaw, langkah-langkah model pembelajaran Jigsaw, pembagian peran dalam model pembelajaran Jigsaw, serta materi belajar yang bisa menggunakan model pembelajaran Jigsaw.

    1. Manfaat
  1. Membantu mempermudahkan siswa dan guru dalam proses pembelajaran ips di SD,terutama kelas V.








BAB II KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN

2.1 Kajian Teori
Jigsaw pertama kali dikembangkan dan diuji cobakan oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan kemudian diadabtasi oleh Slavin dan teman-teman di universitas John Hopkins (Arends,2001).
Teknik mengajar jigsaw dikembangkan oleh Aronson et. Al. Sebagai metode cooperatif learning. Teknik ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan,ataupun berbicara.
Pembelajaaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggungjawab atas penguaaan bagian materi belajara dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends,1997).
Model pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw merupakan model pembelajara kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang secara Heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggungjawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok lain (Arends,1997).
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerjasama untuk mempelajari materi yang ditugaskan “ (Lie,A.,1994).
Pengertian teknik Jigsaw Dalam standart proses pendidikan, pembelajaran didesain untuk membelajarakan siswa. Artinya sistem pembelajaran menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dengan kata lain, pembelajaran ditekankan atau berorientasi pada aktivitas siswa. Wina Sanjaya (2006) dalam bukunya strategi pembelajaran menjelaskan beberapa asumsi perlunya pembelajaran berorientasi pada aktivitas siswa antara lain pertama, asumsi tentang siswa sebagai subjek pendidikan.
Dalam model pembelajaran Jigsaw akan terjadi kombinasi antara materi yang disampaikan peserta didik selaku pengajar dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain selaku pembelajar. Dari sini dapat dibuat sebuah kumpulan pengetahuan yang bertalian. (Melvin L. silberman, active learning, Yogyakarta: Pustaka Insan Madani, 2007)
Keberhasilan belajar peserta didik yang dicapai dapat diukur melalui penilaian hasil belajar. Salah satu metode mengajar yaitu : “Belajar Kooperatif (cooperive learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui- penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar” (Nurhadi dan Senduk, 2003 : 20).

2.2 PEMBAHASAN
2.2.1 Deskripsi pembelajaran Metode Jigsaw
Metode  jigsaw adalah teknik pembelajaran kooperatif di mana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan dari jigsaw ini adalah mengembangkan kerja tim, ketrampilan belajar kooperatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian. Model pembelajaran Jigsaw menggunakan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok“ (group-to-group exchange) dimana setiap peserta didik mengajarkan sesuatu kepada peserta didik yang lainnya. Dalam proses pengajaran itu terjadi diskusi. Dalam diskusi pasti ditemukan beberapa perbedaan pendapat yang dikarenakan oleh perbedaan pemahaman atas materi yang dipelajari oleh masing-masing peserta didik. Oleh karena itu, Setiap kali seorang peserta didik mengajarkan sesuatu kepada yang lainnya berdasarkan apa yang telah dipelajarinya, akan terjadi timbal balik dari pihak pembelajar berdasarkan materi yang dipelajarinya pula.Dalam model pembelajaran Jigsaw akan terjadi kombinasi antara materi yang disampaikan peserta didik selaku pengajar dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain selaku pembelajar. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi

2.2.2 Kelemahan dan Keunggulan
Didalam sebuah sistem pembelajaran terutama dalam model pembelajaran dengan menggunakan teknik jigsaw terdapat beberapa kelemahan dan keunggulannya dan didalam Pelaksanaan pembelajaran di kelas dengan model pembelajaran Jigsaw tidaklah selalu berjalan dengan mulus meskipun rencana telah dirancang sedemikian rupa oleh karena adanya beberapa hal yang menghambat proses kegiatan belajar mengajar. Disinilah letak kekurangan model pembelajaran Jigsaw. Hal-hal yang dapat menghambat proses pembelajaran dalam penerapan model pembelajaran Jigsaw diantaranya adalah sebagai berikut:
A.Kelemahan
  • Teknik jigsaw merupakan pembelajaran “peerteaching” yaitu pembelajaran oleh teman sendiri. Ini akan menjadi kendala karena setiap siswa mempunyai persepsi yang tidak sama mengenai suatu konsep yang akan di diskusikan. Dalam hal ini pengawasan guru sangat diperlukan agar tidak terjadi salah konsep antar siswa (miss conception).
  • Metode ini dirasa sulit untuk meyakinkan siswa untuk mampu berdiskusi dalam penyampaian materi diskusi pada teman. Jika siswa tidak percaya diri maka pendidik harus mampu memfasilitasi kegiatan belajar mengajar.
  • Didalam siswa SD terutama kelas V biasanya sulit diatur dan didalam penggunaan metode jigsaw membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pembentukan kelompok, dan membutuhkan persiapan yang matang agar proses pembelajaran dengan menggunakan teknik jigsaw bisa berjalan dengan baik.
  • Jumlah siswa yang terlalu banyak yang mengakibatkan perhatian guru terhadap proses pembelajaran relatif kecil sehingga hanya segelintir orang yang menguasai arena kelas sedangkanyanglainhanyasebagaipenonton.
  • Terbatasnya pengetahuan siswa akan sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

B.Keunggulan
Teknik jigsaw memiliki beberapa keunggulan dalam memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan potensi diri. Beberapa keunggulan itu antara lain:
  • Dapat menambah rasa percaya diri siswa dalam menyampaikan suatu pendapat dan kemampuan berpikir secara kritis.
  • Setiap siswa dapat mengembangkan kemampuan dalam pengungkapan ide atau sebuah gagasan dalam pemecahan suatu masalah dalam kelompok diskusi tersebut.
  • Melatih peserta didik agar terbiasa berdiskusi dan bertanggungjawab secara individu untuk membantu memahamkan tentang suatu materi pokok kepada teman sekelasnya.
  • Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompok yang lain.
  • Siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan bekerja sama secara kooperatif untukmempelajarimateriyangditugaskan.

2.2.3 Langkah-langkah Pembelajaran
Model pembelajaran Jigsaw merupakan suatu pembelajaran yang dirancang oleh guru, dimana siswa belajar secara kelompok kecil, yang terbagi atas kelompok asal dan kelompok ahli (Counterpart Group), dengan tujuan setiap siswa mengetahui dengan benar materi yang dipelajari bersama, dengan langkah-langkah tertentu. Perlu diperhatikan bahwa dalam menggunakan Jigsaw perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Adapun langkah-langkah Model pembelajaran Jigsaw adalah sebagai berikut:
1. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok. Jumlah anggota kelompok menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Kelompok ini disebut kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji).
2. Setiap siswa anggota kelompok asal diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut.
3. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG).
4. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal.
Berikut ini contoh penerapannya:
Misalnya suatu kelas terdiri dari empat puluh siswa dan lima bagian materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Maka dari empat puluh siswa akan terdapat lima kelompok ahli yang beranggotakan delapan siswa dan delapan kelompok asal yang terdiri dari lima siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.
5. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
6. Guru memberikan evaluasi
C. Pembagian Peran Dalam Model Pembelajaran Jigsaw
Dalam model pembelajaran Jigsaw, guru berperan sebagai fasilitator baik itu fasilitator kelompok asal maupun fasilitator kelompok ahli. Sedangkan siswa menjalani dua peran yaitu sebagai peneliti dan pengajar.
1. Siswa sebagai peneliti
Ketika seorang siswa berperan sebagai peneliti atau pencari jawaban atas materi yang telah dibagi, siswa tersebut akan tergabung dengan kelompok ahli. Dalam kelompok ahli ini, siswa yang mempunyai materi yang sama saling bertukar pendapat terhadap materi yang dipelajari. Kelompok ahli yang diisi oleh siswa dari kelompok asal ini akan mempelajari lebih dalam terhadap materi yang telah ditentukan. Semua anggota kelompok ahli diharuskan untuk menyampaikan pemahamannya terhadap materi sehingga anggota kelompok ahli yang lain dapat memiliki tambahan pemahaman. Dan pemahaman inilah yang dijadikan sebagai bekal oleh setiap siswa untuk menjalankan perannya yang kedua yakni peran sebagai pengajar.
2.Siswa sebagai pengajar
Setelah siswa berdiskusi di kelompok ahli, siswa akan menjalankan perannya yang kedua yaitu menjadi orang yang mengajarkan. Setiap anggota dari kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal. Kelompok asal inilah yang biasanya disebut kelompok Jigsaw. Dalam kelompok asal, setiap siswa akan memberi pemahaman materi sesuai dengan yang telah didiskusikan dalam kelompok ahli kepada anggota lain dalam kelompok Jigsaw. Hal tersebut dilakukan secara bergantian sampai materi yang dip
elajari semuanya telah dijelaskan.
D. Materi Belajar Yang Bisa Menggunakan Model Pembelajaran Jigsaw
Tidak semua materi suatu mata pelajaran dapat menggunakan model pembelajaran Jigsaw. Model pembelajaran Jigsaw ini dapat digunakan apabila:
1. Materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian.
2. Materi yang akan dipelajari tidak mengharuskan urutan penyampaian.
Agar pelaksanaan pembelajaran Cooperative Learning Jigsaw dapat berjalan dengan baik, maka upaya yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Guru senantiasa mempelajari teknik-teknik peneraapan model pembelajaran Cooperative Learning khususnya tipe Jigsaw dan menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan.
2. Pembagian jumlah siswa yang merata, dalam artian tiap kelas merupakan kelas heterogen.
3. Diadakan sosialisasi dari pihak terkait tentang teknik pembelajaran Cooperative Learning.
4. Meningkatkan sarana pendukung pembelajaran terutama buku sumber.
5. Mensosialisasikan kepada siswa akan pentingnya sistem teknologi dan informasi yang dapat mendukung proses pembelajaran.

2.2.4 Pengaruh Model jigsaw terhadap motivasi siswa
Bahwa motivasi itu di perlukan dalam setiap pembelajaran, dalam penerapanya teori jigsaw akan berpengaruh pada motivasi terhadap peserta didik. Peseta didik akan lebih mudah dalam memahami model pembelajan seperti halnya teori jigsaw














BAB III PENUTUP

    1. KESIMPULAN
Pembelajaran di sekolah yang melibatkan siswa dengan guru akan melahirkan nilai yang akan terbawa dan tercermin terus dalam kehidupan di masyarakat. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif dalam kelompok secara bergotong royong (kooperatif) akan menimbulkan suasana belajar partisipatif dan menjadi lebih hidup. Teknik pembelajaran Cooperative Learning dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan dapat meningkatkan kreativitas siswa.
Jigsaw merupakan bagian dari teknik-teknik pembelajaran Cooperative Learning. Jika pelaksanaan prosedur pembelajaran Cooperative Learning ini benar, akan memungkinkan untuk dapat mengaktifkan siswa sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Sampai saat ini pembelajaran Cooperative Learning terutama teknik Jigsaw belum banyak diterapkan dalam pendidikan walaupun orang Indonesia sangat membanggakan sifat gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat.

    1. SARAN
Bagi guru,guru dapat lebih berinisiatif untuk memakai banyak pilihan pendekatan dan model dalam kegiatan pembelajaran,khususnya model pembelajaran kooperativ teknik jigsaw,model pembelajaran ini dapat menghindari siswa dari kejenuhan terhadap metode ceramah yang sering digunakan guru dalam proses pembelajaran. Dan salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatakan kreatifitas siswa yaitu dengan cara guru mampu merancang pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dan membuat siswa menyukai kegiatan belajar.
Bagi siswa,siswa dapat menyadari bahwa kreatifitas berdiskusi dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran,jika siswa secara aktif mendengarkan penjelasan guru dan juga secara aktif menggunakan kemampuannya bertanya,berpendapat dan menyanggah untuk menemukan data dalam pemecahan masalah.


DAFTAR PUSTAKA




0 komentar:

Poskan Komentar

 

Dunia aku Berbicara Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea